Renungan Harian 27 Juni 2018 Tinggalkan Kepalsuan (Matius 7 : 15 -20) Oleh Romo Felix Supranto, SS.CC Dengarkanlah renungan yang saya sampaikan melalui Voice Record kepada saudara-saudari dengan tema : Tinggalkan Kepalsuan Orang Kristiani Sejati tampak dari buah kehidupannya, yaitu sembilan buah roh : "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri". (. Gal 5:22-23). Kita harus menjaga martabat sebagai domba sejati dari Tuhan dengan terus mewaspadai diri dari kecemaran. Kecemaran diri bisa terjadi ketika kita menghadapi masalah, jangan biarkan masalah itu membuat kita jatuh, tetapi masalah itu seharusnya membuat iman kita semakin kuat dan berbuah. Selamat mendengarkan renungan lengkapnya di bawah ini dan semoga menjadi berkat. Tuhan Memberkati
Popular posts from this blog
Renungan Harian 29 Juni 2018 (Hari Raya Santo Petrus dan Paulus) Kuat di Dalam Tuhan (Matius 16: 3-19)) Oleh Romo Felix Supranto, SS.CC Dengarkanlah renungan yang saya sampaikan melalui Voice Record kepada saudara-saudari dengan tema : Kuat Di dalam Tuhan “ Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18) Kita ini adalah Petrus, yang berarti "batu yang kecil, lemah, rapuh", yang tidak akan mampu menghadapi hidup dan berbagai tantangannya, tanpa bertumpu pada Tuhan (Sang Batu Karang). Kita yang bertumpu pada Tuhan mengerti arti sukacita yang sesungguhnya : Sukacita bukan berarti bahwa kita akan selalu bangun dengan senyuman setiap harinya; sukacita bukan berarti bahwa kita akan selalu riang gembira di tengah badai kehidupan. Sukacita adalah sebuah keputusan untuk melihat tujua...
Renungan 25 Juni 2018 Mawas Diri (Matius 7 : 1-5) Oleh Romo Felix Supranto, SS.CC Mawas diri berguna untuk menjadi pengingat kita bahwa kita tidak sempurna. Mawas diri membuat kita sadar bahwa hidup adalah proses pembelajaran dri untuk perbaikan diri. Orang yang tahu akan dirinya kurang sempurna lebih memiliki kasih dengan tidak mudah mengakimi. MAKIN TINGGI STANDAR YANG KITA BUAT BAGI SESAMA MAKIN TINGGI STANDAR YANG HARUS KITA SENDIRI PENUHI Jangan mengutuk, atau menghakimi”. Bukan kepada manusia diberi hak untuk menilai kesalahan sesamanya; Satu tugas diberikan kepada kita adalah untuk mencari dan mengatasi kesalahan Anda sendiri. Lambatlah dalam menghakimi sesama, tetapi cepatlah dalam menghakimi diri sendiri. Selamat mendengarkan renungan lengkapnya di bawah ini dan semoga menjadi berkat. Tuhan Memberkati





Comments
Post a Comment